Sejarah Singkat

Prodi S1 Arkeologi menjadi sebagai program sarjana arkeologi pertama di Asia Tenggara yang telah disertifikasi oleh AUN-QA.

2019

Departemen Arkeologi FIB Unhas mengawali kiprahnya dalam dunia pendidikan kearkeologian di Indonesia sejak tahun 1980. Hal tersebut ditandai dengan pendirian konsentrasi Arkeologi pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya (FISBUD) Unhas. Sejalan dengan penerbitan Surat Keputusan Rektor Unhas nomor 405/A/10.01/1984 tanggal 9 Juli 1984 tentang Kurikulum Universitas Hasanuddin, Arkeologi kemudian dikembangkan menjadi Program Studi Arkeologi di bawah Jurusan Sejarah dan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Seiring penambahan jumlah lulusan dan meningkatnya tuntutan terhadap pengembangan organisasi, pada tahun 1998, Program Studi Arkeologi ditetapkan menjadi jurusan berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (DEPDIKBUD), Nomor: 67/DIKTI/KEP/1998, tanggal 3 Maret 1998. Perubahan status tersebut menandai era baru perjalanan Arkeologi Unhas dari sebuah program studi, menjadi jurusan yang independen dari Jurusan Ilmu Sejarah.

Pada tahun 2016, terjadi perubahan OTK di Universitas Hasanuddin melalui penerbitan Peraturan Rektor Nomor: 43315/UN4.1/PP.42/2016. Dari perubahan tersebut, Jurusan Arkeologi berganti menjadi Departemen Arkeologi.

Pada tahun yang sama, Departemen Arkeologi mengusulkan untuk membuka program magister arkeologi. Setelah melalui proses yang berliku, pada tahun 2018 Departemen Arkeologi resmi
mengelola dua program studi, yaitu: Prodi S1 Arkeologi dan Prodi S2 Arkeologi. Prodi yang disebutkan terakhir merupakan satu-satunya program magister arkeologi di luar pulau Jawa.

Kerja keras untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan Tridharma membuahkan hasil setelah Program Studi S1 Arkeologi FIB Universitas Hasanuddin meraih akreditasi “A” berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 2072/SK/BAN-PT/Akred/S/IX/2016. Seakan tak pernah puas dalam berbenah, pada tahun 2018, Departemen Arkeologi mengikuti penilaian kualitas oleh ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA).

Berdasarkan hasil penilaian lapangan di tahun 2019 oleh asesor dari AUN-QA, Prodi S1 Arkeologi menjadi sebagai program sarjana arkeologi pertama di Asia Tenggara yang telah disertifikasi oleh AUN-QA.

Pusat kajian dan pengembangan arkeologi yang unggul berbasis budaya maritim 2013-2023

Visi

Misi

Menyelenggarakan pendidikan Sarjana Arkeologi yang berkualitas dan berwawasan kemaritiman.
Mengembangkan kajian arkeologi dan pengelolaan sumberdaya arkeologi yang berwawasan pelestarian.
Mendorong pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya arkeologi yang bersifat enterpreneurship.

Falsafah Pendidikan

Sejalan dengan falsafah pendidikan Unhas, Departemen Arkeologi menyusun falsafah pendidikannya berdasarkan kebijakan pendidikan nasional dan kekhususan bidang arkeologi. Berdasarkan Undang-undang Pendidikan Tinggi No. 12 tahun 2012, pendidikan ialah “…usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.” Berdasarkan pernyataan filosofis tersebut, Unhas menerapkan Student-Centred Education (SCE) sebagai perspektif filosofis dalam menjalankan fungsinya sebagai institusi pendidikan tinggi. Falsafah pendidikan ini kemudian diterjemahkan menjadi Student-Centred Approach (SCA); sebuah strategi pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses belajar.

Departemen Arkeologi mengimplementasikan PBL dengan mengalokasikan kunjungan ke situs arkeologis pada hampir semua mata kuliah. Sebagai contoh, setelah mengikuti dua hingga empat pertemuan di kelas, mata kuliah dalam kluster Sejarah Budaya seperti Prasejarah Indonesia, Prasejarah Sulawesi, Arkeologi Indonesia Islam, dan Arkeologi Kolonial mengalokasikan waktu untuk mengunjungi situs arkeologi yang relevan agar mahasiswa dapat belajar dan mengamati secara langsung objek yang disajikan dalam kuliah di kelas. Selain itu, sebagian besar mata kuliah dalam kelompok mata kuliah Teori dan Metode Arkeologis menuntut mahasiswa untuk mengunjungi situs arkeologi guna melakukan observasi lapangan dan perekaman data baik secara individual maupun berkelompok. Lebih lanjut, mata kuliah bermuatan kegiatan lapangan intensif seperti Ekskavasi Arkeologis mengalokasikan 80 persen kegiatan lapangan dan aktivitas laboratorium.

Selain menerapkan SCA, Departemen Arkeologi juga memahami kekhususan bidang arkeologi dan telah mengembangkan sebuah strategi pembelajaran mata kuliah di Departemen Arkeologi. Kekhususan tersebut tergambar jelas dalam citra populer arkeologi yang berbunyi “the archaeological knowledge in out there in the field.” Karena itu, selain menerapkan SCA, Departemen arkeologi juga menerapkan Pendidikan Berbasis Lapangan (PBL) sebagai filosofi pendidikannya. Departemen Arkeologi meyakini bahwa cara terbaik membangun pengetahuan dan keterampilan arkeologis ialah melalui pengalaman belajar langsung di lapangan. Lebih lanjut, dalam dunia teori pendidikan, SCA dan PBL diturunkan dari teori yang sama, konstruktivisme.

Statistika

0
Tahun Berdiri
0
Jumlah Dosen Tetap
0
Mahasiswa Aktif
0
Jumlah Alumni

Testimoni Alumni